Paypal

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

Senin, 09 April 2012

my attempt to memanusiakan perasaan

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah" Pramoedya Ananta Toer 

 Menulis, selain meninggalkan jejak informasi juga merupakan sarana kita memanusiakan pemikiran pemikiran kita. Karena pada dasarnya pikiran kitalah yang menciptakan persepsi kita tentang hidup. sebegitunya eratnya hubungan antara mereka (pikiran-realita kehidupan), seorang psikolog, Sigmund Freund mengatakan bahwa kita bisa menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan kekuatan pengaruh mental saja.

(opini) Kita pun tak akan pernah benar benar bernafas kecuali sampai suatu ketika, kita dapat memahami pemikiran pemikiran kita sendiri, apa adanya. salah satu upaya saya mencapai itu adalah dengan menulis, selain juga mengamati interaksi sosial yang saya lakukan bersama teman, dan pikiran pikiran yang muncul dalam keseharian saya.

perlahan berbagai konflik pun dapat saya analisa penyebabnya, berbagai perlakuan saya baik yang rasional maupun yang absurd dapat saya telusuri akar muasalnya. dan yang terpenting, adalah saya pada akhirnya mampu- memanusiakan perasaan saya sendiri, yakni bagaimana pada akhirnya saya mengerti dan melihat sendiri, pengaruh dan hubungan hubungann yang di timbulkan emosi pada proses pengambilan keputusan saya yang berdampak pada hubungan saya dengan orang lain.

menarik bahwasannya sebagai individu, saya bisa menyelesaikan banyak masalah dengan mengkonsentrasikan pikiran saya ke hal hal yang fundamental, di mulai dari belief, kemudian sikap, kemudian behavior dan selanjutnya. 

Pada akhirnya segala pengamatan saya bermuara pada satu hal: agar saya bisa menerima fakta bahwa perasaan saya pun merengek minta di perhatikan dan tak selamanya di anggurkan. maka sayapun memutuskann untuk memanusiakan perasaan saya sendiri, di mulai dari momen ini. dan langkah konkrit saya adalah dengan menuliskannya dan berkreasi-baik itu menggambar, atau bernyanyi dlsb

dan kurikulum kehidupan saya kembali saya rakit satu demi satu. tujuannya satu: menjadi manusia yang jauuh lebih baik dalam jangka waktu 4 tahun ke depan. tapi sebelum itu semua, fokus saya adalah UN, yang akan terjadi 8 hari lagi. doakan selalu. dan mari saling memberi energi positif satu sama lain.terima kasih :)

Jumat, 30 Maret 2012

Seize the life-let's grow up

Hidup adalah serangkain keputusan yang kita ambil.
keputusan yang merangkai paragraf demi pragraf cerita kehidupan yang kita buat sendiri, dengan kita sebagai karakter utamanya.

Bulan lalu, saya semakin menjadi tua saja, kini saya berusia 19 tahun 1 bulan kurang. Sebelumnya umur hanya seperti serangkaian angka, tapi nyatanya sama seperti berat badan, ketika angkanya membesar ternyata berbuah kegalauan juga.

Di umur yang semakin renta ini, threshold sebelum tahun depan saya bisa di bilang berkepala dua, dan sudah hidup kurang lebih 2 dekade, (I have a goosebumbs just by imagining) tentu banyak yang telah saya peroleh.

Namun seperti layaknya setiap kegalauan yang membawa kita termenung, tuanya saya justru membuat saya takut. takut untuk jadi dewasa, takut meninggalkan masa remaja yang penuh rasa menyenagkan dan pragmatisme.

apa saya siap? siap untuk melepas atribut atribut keremajaan dan beranjak dewasa? atau selamanya saya terjebak di batas realita, yah sama saja seperti keengganan kita ketika melepas fakta bahwa kita-bagaimanapun kita menentang- sudah bukan anak anak lagi. huft. (this fact doesnt stop my best friend from eating baby food,though)

Sebenernya saya tidak usah buru buru memikirkan tentang kedewasaan. hidup kita bebas kita yang menentukan, tapi hanya saja- terkadang saya sendiri jenuh loh- dengan konsep hidup saya yang masiih saja tidak jelas. masalahnya, konsep yang belum matang membuat kita sering bimbang- dan gelisah-dan hampa --> ini semua jelas kontra produktif bagi remaja seusia saya yang tergila gila dengan produktivitas dan progress

konsep yang mentah dan cupu juga membuat gua gampang terombang ambing arus pergaulan. dan terjebak di pertentangan anatara perasaan ingin berkomitmen dengan keinginan merdeka dan mandiri dari apapun (termasuk peraturan peraturan yang sebagai remaja-saya pandang terlalu rigid,kuno dan membosankan)

harus di akui juga, bahwa dunia ga selalu abu abu- ada hitam putihnya juga. menjadi seorang pendamai yang mengkompromiskan nilai kepercayaan saya sendiri itu tidak selamanya bijak dan tepat. kadang memang harus ada konflik yang harus kita berani hadapi- untuk membuat kita belajar tentang diri kita masing masing. tentang pandangan kita sendiri, tentang paragraf cerita ini yang kita gores dan review setiap hari.

menjadi dewasa itu ga mudah, harus ada yang kita tinggal. dan seringkali hal yang sepertinya terlihat menyenangkan- bukan artinya saya saklek dengan mitos masyarakat tentang apa itu dewasa, tapi memang ada konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil. dan sebaiknya kita benar benar paham tentang hal itu.

menurut saya, kedewasaan yang paripurna adalah bisa menjadi nyaman dengan diri sendiri apa adanya, tentang nilai nilai dan kepercayaan yang kita percayai benar- level berikutnya adalah memahami kenapa apa yang kita percayai benar - setidaknya memiliki beberapa lines argument untuk itu- dan bisa menjelaskannya ke orang lain dengan bijak.

kedewasaan haruslah punya tolak ukur yang jelas. dan menurut saya hal yang paling utama adalah kontrol diri. dewasa artinya tidak lagi impulsive dan terombang ambing pasang surutnya perasaan/mood tapi mampu mengontrol kebutuhan kebutuhan emosional sekaligus dapat memenuhi tuntutan untuk tetap rasional. kontrol dirilah yang membuat kita bebas untuk kapan saja memutuskan lepas dari kebiasaan kebiasaan yang merusak atau tidak sehat,  seperti merokok, ceroboh, dll. kontrol diri merupakan suatu hal yang susah sekali saya capai. -tapi setidaknya di umur saya yang renta ini saya berjuang melatihnya. haha

saya sebenernya bingung, banyak sekali konsep saya tentang dewasa- hanya saja konsep itu tercecer cecer dan tidak tersusun dalam suatu pemahaman yang terkonsep. tugas saya adalah mengarsif pengetahuan saya serapih rapihnya, agar suatu saat kelak, semoga itu ga lama.gua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan "dewasa". dewasa bukan karena umur, tapi karena kredibiltas saya mengasung gelar itu.

nevertheless, even though being a teenanger is cool. being a real adult is the coolest you can ever become.

Ganbatte Kudasai!

Recent Comments